Kamis, 24 Januari 2019

Puisi Galau

Meneguhkan Hati Demi Cinta
Oleh : Nina Damayanti

Sampai disini adalah keputusan..
Dunia menorehkan sekolah kehidupan..
Bukan tentang penambahan dan pengurangan..
Sesuatu yang tak mudah di lewati...
Namun patut di perjuangkan..
Ada yang perih karena waktu..
Ada yang marah soal temu..
Kau akan di buat lelah soal memelihara ketangguhan hati..
Keputus asaan menjadi momok..
Membunuh mampus, hingga hangus..
Tersudut..
Tapi kau tak mampu berbelok, kecuali terus berjalan lurus..
Jangan heran jika kau bertarung dengan dirimu sendiri..
Pertarungan yang bisa di katakan sangat sengit..
Antara harapan dan keputus asaan..

Sidoarjo, 24 Januari 2019

Selasa, 22 Januari 2019

Puisi Galau

Terabaikan Hati

Aku pernah menemani hati yang begitu sepi..
Dia hanya menyeduh ku sekali..
Membiarkan uap ku terus melangit..
Apa panasku tak mampu menghangatkan dinginnya hati?
Alih-alih kurayu dengan manisku..
Aku justru diajak melihat rekam jejaknya yang abu-abu..
Belajar berdamai dengan diri..
Merabah berbenah diri..
Aku dibiarkan tak tersentuh..
Ah sial sore ini aku coklat hangat yang terabaikan.

Catatan N.D
Sidoarjo, 20 Januari 2019

Puisi Galau

Hujan

Sepi yang berisik..
Hujan selalu mampu mendramatiskan..
Apa hanya aku yang bermain dengan hujan..
Hingga datangnya selalu mengajakku kedinginan..
Tak henti..
Pun hujan selalu menyuguhkan memori silam..
Bersamaan suara bersaut-sautan dari harapan-harapan terdalam..
Bilik kecil ini bisa apa?
Selain menjadi bilik cerita..

Catatan N.D
Sidoarjo, 15 Januari 2019

Puisi Galau

Rindu yang tak berujung

Ku tersentak dari lelapku senja ini ..
Sebagaimana senja kerap menawarkan sepi..
Aku bertaruh pada sunyi..
Malam ini aku tak menangis saat rindu pulang..
Ironi..
Terakadang aku merasa sepi kala ramai..
Aku merasa ramai kala sendiri..
Menelajah angan tak bertepi..
Seseorang tolong katakan pada saya..
Saya tidak sekacau seperti yang saya pikirkan tentang saya..
Malam hanya semacam kecemasan..

Catatan N.D
Sidoarjo, 13 januari 2019

Puisi Galau

Sendu

Senja..
Aku memang tak pantas untuk kau dekap saat masa indah itu..
Kala itu, katamu malammu adalah milikku..
Sekali lagi aku melihatnya membeku dengan warna tak mampu..
Dimana gema dalam pikiranku sendiri adalah kebisingan yang tak berujung..
Rasa, mati diantara perasaan itu sendiri..
Ah..
Di bilik kecil ini aku terbelenggu..
Padahal aku hanya menunggu awan kembali membiru..
Sepertinya badai telah memporak-porandakan kalbuku..

Catatan N.D
Sidoarjo, 07 januari 2019